Refleksi Itu Tidak Lagi Mengikutiku — Dia Mulai Bergerak Sendiri
Refleksi Itu Tidak Lagi Mengikutiku — Dia Mulai Bergerak Sendiri
Sejak malam itu, aku mencoba menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
Aku menjauh dari cermin.
Aku menghindari melihat pantulan diriku terlalu lama.
Dan untuk beberapa hari… semuanya terasa normal.
Atau setidaknya, aku mencoba percaya begitu.
Hal Kecil yang Mulai Berbeda
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Saat aku bercermin, semuanya terlihat biasa.
Tapi kalau aku menatap sedikit lebih lama…
Ada perasaan aneh.
Seperti… ada jeda.
Seperti refleksiku tidak langsung mengikuti gerakanku.
Aku berkedip.
Dia ikut berkedip.
Tapi… sedikit terlambat.
Aku Mulai Menguji
Rasa takut itu berubah jadi rasa penasaran.
Suatu siang, aku berdiri di depan cermin.
Aku mengangkat tangan kanan.
Refleksiku ikut.
Normal.
Lalu aku mencoba lebih cepat.
Gerakan tiba-tiba.
Dan di situlah aku melihatnya.
Refleksiku… terlambat.
Sangat sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku sadar:
Dia tidak sepenuhnya mengikuti aku.
Malam Itu, Semuanya Berubah
Aku mencoba mengabaikan lagi.
Sampai malam itu datang.
Sekitar jam 3 pagi.
Aku terbangun.
Bukan karena suara.
Tapi karena perasaan…
Aku sedang diperhatikan.
Cermin Itu Menghadap ke Arahku
Padahal aku ingat jelas…
Aku sudah memindahkannya.
Jauh dari tempat tidur.
Tapi sekarang…
Cermin itu kembali menghadap langsung ke arahku.
Aku Tidak Bergerak
Aku hanya berbaring.
Menatap cermin dari kejauhan.
Dan di sana…
Aku melihat diriku.
Duduk di tempat tidur.
Padahal Aku Masih Berbaring
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak duduk.
Tapi di dalam cermin…
"aku" sedang duduk.
Menatap lurus ke arahku.
Dia Tersenyum
Pelan.
Lebar.
Dan perlahan… dia mengangkat tangannya.
Melambai.
Aku Membeku
Tubuhku tidak bisa digerakkan.
Aku ingin berteriak.
Tapi suaraku tidak keluar.
Dan dia…
Masih di sana.
Menatapku.
Seolah menunggu sesuatu.
Dia Berbicara
Tanpa suara.
Tapi aku tahu apa yang dia katakan.
Bibirnya bergerak pelan.
"Aku… sudah lama di sini."
Aku Menutup Mata
Aku tidak sanggup lagi melihat.
Aku menutup mata sekuat mungkin.
Berharap saat aku membuka lagi…
Semuanya akan hilang.
Tapi Tidak
Saat aku membuka mata…
Cermin itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada "aku".
Hanya pantulan kamar yang gelap.
Tapi Ada Satu Hal yang Berubah
Aku duduk di tempat tidur.
Terengah-engah.
Masih mencoba memahami apa yang terjadi.
Sampai aku melihat sesuatu di tanganku.
Bekas goresan.
Tipis.
Seperti tulisan.
Aku mendekatkan tangan ke cahaya.
Dan di sana…
Ada satu kalimat:
"Aku ingin keluar."
Penutup
Sejak malam itu, aku tidak pernah merasa sendirian lagi.
Bukan karena ada orang lain.
Tapi karena aku tahu…
Ada sesuatu yang tinggal bersamaku.
Menunggu.
Mengamati.
Dan perlahan…
Mencari cara untuk menggantikan tempatku.
---
Dan sekarang aku mulai takut…
Bukan pada apa yang ada di dalam cermin—
tapi pada kemungkinan… bahwa suatu hari, aku yang akan berada di dalamnya.
Sejak malam itu, aku mencoba menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
Aku menjauh dari cermin.
Aku menghindari melihat pantulan diriku terlalu lama.
Dan untuk beberapa hari… semuanya terasa normal.
Atau setidaknya, aku mencoba percaya begitu.
Hal Kecil yang Mulai Berbeda
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Saat aku bercermin, semuanya terlihat biasa.
Tapi kalau aku menatap sedikit lebih lama…
Ada perasaan aneh.
Seperti… ada jeda.
Seperti refleksiku tidak langsung mengikuti gerakanku.
Aku berkedip.
Dia ikut berkedip.
Tapi… sedikit terlambat.
Aku Mulai Menguji
Rasa takut itu berubah jadi rasa penasaran.
Suatu siang, aku berdiri di depan cermin.
Aku mengangkat tangan kanan.
Refleksiku ikut.
Normal.
Lalu aku mencoba lebih cepat.
Gerakan tiba-tiba.
Dan di situlah aku melihatnya.
Refleksiku… terlambat.
Sangat sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku sadar:
Dia tidak sepenuhnya mengikuti aku.
Malam Itu, Semuanya Berubah
Aku mencoba mengabaikan lagi.
Sampai malam itu datang.
Sekitar jam 3 pagi.
Aku terbangun.
Bukan karena suara.
Tapi karena perasaan…
Aku sedang diperhatikan.
Cermin Itu Menghadap ke Arahku
Padahal aku ingat jelas…
Aku sudah memindahkannya.
Jauh dari tempat tidur.
Tapi sekarang…
Cermin itu kembali menghadap langsung ke arahku.
Aku Tidak Bergerak
Aku hanya berbaring.
Menatap cermin dari kejauhan.
Dan di sana…
Aku melihat diriku.
Duduk di tempat tidur.
Padahal Aku Masih Berbaring
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak duduk.
Tapi di dalam cermin…
"aku" sedang duduk.
Menatap lurus ke arahku.
Dia Tersenyum
Pelan.
Lebar.
Dan perlahan… dia mengangkat tangannya.
Melambai.
Aku Membeku
Tubuhku tidak bisa digerakkan.
Aku ingin berteriak.
Tapi suaraku tidak keluar.
Dan dia…
Masih di sana.
Menatapku.
Seolah menunggu sesuatu.
Dia Berbicara
Tanpa suara.
Tapi aku tahu apa yang dia katakan.
Bibirnya bergerak pelan.
"Aku… sudah lama di sini."
Aku Menutup Mata
Aku tidak sanggup lagi melihat.
Aku menutup mata sekuat mungkin.
Berharap saat aku membuka lagi…
Semuanya akan hilang.
Tapi Tidak
Saat aku membuka mata…
Cermin itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada "aku".
Hanya pantulan kamar yang gelap.
Tapi Ada Satu Hal yang Berubah
Aku duduk di tempat tidur.
Terengah-engah.
Masih mencoba memahami apa yang terjadi.
Sampai aku melihat sesuatu di tanganku.
Bekas goresan.
Tipis.
Seperti tulisan.
Aku mendekatkan tangan ke cahaya.
Dan di sana…
Ada satu kalimat:
"Aku ingin keluar."
Penutup
Sejak malam itu, aku tidak pernah merasa sendirian lagi.
Bukan karena ada orang lain.
Tapi karena aku tahu…
Ada sesuatu yang tinggal bersamaku.
Menunggu.
Mengamati.
Dan perlahan…
Mencari cara untuk menggantikan tempatku.
---
Dan sekarang aku mulai takut…
Bukan pada apa yang ada di dalam cermin—
tapi pada kemungkinan… bahwa suatu hari, aku yang akan berada di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar