Aku Masih Terjebak di Dalam Cermin… dan Dia Sudah Menggantikan Hidupku
Aku Masih Terjebak di Dalam Cermin… dan Dia Sudah Menggantikan Hidupku
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini.
Di dalam cermin.
Waktu terasa… aneh.
Tidak ada siang.
Tidak ada malam.
Hanya bayangan.
Dan pantulan yang tidak pernah benar-benar diam.
Aku Bisa Melihat Semuanya
Aku bisa melihat dunia luar.
Melihat kamar.
Melihat orang-orang.
Dan… melihat diriku sendiri.
Atau lebih tepatnya—
Sesuatu yang sekarang menggunakan tubuhku.
Dia Hidup Seperti Aku
Awalnya aku pikir dia hanya akan diam.
Atau bersembunyi.
Tapi ternyata tidak.
Dia hidup seperti aku.
Bangun pagi.
Berbicara dengan orang rumah.
Melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan.
Tidak ada yang curiga.
Tidak ada yang sadar.
Tapi Ada yang Berbeda
Aku memperhatikan.
Cara dia berjalan sedikit berbeda.
Cara dia tersenyum… terlalu sempurna.
Dan matanya—
Kosong.
Tidak ada perasaan.
Aku Mencoba Berkomunikasi
Aku tidak tinggal diam.
Aku mencoba memberi tanda.
Mengetuk dari dalam cermin.
Menggerakkan bayangan.
Kadang, aku berhasil membuat pantulan terlihat sedikit "aneh".
Sedikit terlambat.
Sedikit berbeda.
Aku berharap…
Ada yang menyadarinya.
Sampai Suatu Hari
Dia berdiri di depan cermin.
Menatapku.
Untuk waktu yang lama.
Lebih lama dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Dia berbicara langsung padaku.
"Kamu Masih Berharap?"
Suaranya terdengar jelas.
Di dalam kepalaku.
Dingin. Tenang.
Seolah dia tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku Tidak Menjawab
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena aku tidak bisa.
Aku hanya bisa melihat.
Dia Tersenyum Lagi
"Tenang saja," katanya.
"Aku akan menjaga hidupmu dengan baik."
Kalimat itu…
Harusnya terdengar menenangkan.
Tapi justru terasa mengerikan.
Aku Mulai Kehilangan Diriku
Semakin lama di sini…
Aku mulai lupa banyak hal.
Suara orang-orang.
Kebiasaan kecil.
Bahkan…
Wajahku sendiri.
Pantulan di sekitarku mulai berubah.
Kadang bukan aku.
Kadang bukan siapa-siapa.
Seolah aku perlahan… menghilang.
Satu Hal yang Masih Aku Ingat
Namaku.
Itu satu-satunya yang masih aku pegang.
Satu-satunya bukti bahwa aku pernah ada.
Dan Lalu… Sesuatu Terjadi
Suatu malam, dia kembali berdiri di depan cermin.
Tapi kali ini…
Dia tidak sendiri.
Ada seseorang di belakangnya.
Teman.
Atau mungkin…
Kamu.
Dia Mendekatkan Wajahnya ke Cermin
Sangat dekat.
Matanya menatap lurus ke dalam.
Ke arahku.
Lalu dia berbisik:
"Lihat baik-baik pantulanmu…"
Aku Mengerti
Saat itu juga, aku sadar.
Dia tidak hanya ingin hidup sebagai aku.
Dia ingin keluar lagi.
Menggantikan yang lain.
Penutup (Ending Final)
Sekarang aku tahu…
Aku mungkin tidak akan pernah keluar dari sini.
Tapi mungkin…
Aku masih bisa memperingatkan.
Jadi kalau suatu hari kamu berdiri di depan cermin…
Dan merasa pantulanmu sedikit terlambat…
Atau tersenyum lebih dulu…
Jangan abaikan.
Jangan terlalu lama menatapnya.
Dan yang paling penting—
Jangan pernah membiarkannya mendekat terlalu dekat.
---
Karena begitu kamu sadar…
mungkin sudah terlambat.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini.
Di dalam cermin.
Waktu terasa… aneh.
Tidak ada siang.
Tidak ada malam.
Hanya bayangan.
Dan pantulan yang tidak pernah benar-benar diam.
Aku Bisa Melihat Semuanya
Aku bisa melihat dunia luar.
Melihat kamar.
Melihat orang-orang.
Dan… melihat diriku sendiri.
Atau lebih tepatnya—
Sesuatu yang sekarang menggunakan tubuhku.
Dia Hidup Seperti Aku
Awalnya aku pikir dia hanya akan diam.
Atau bersembunyi.
Tapi ternyata tidak.
Dia hidup seperti aku.
Bangun pagi.
Berbicara dengan orang rumah.
Melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan.
Tidak ada yang curiga.
Tidak ada yang sadar.
Tapi Ada yang Berbeda
Aku memperhatikan.
Cara dia berjalan sedikit berbeda.
Cara dia tersenyum… terlalu sempurna.
Dan matanya—
Kosong.
Tidak ada perasaan.
Aku Mencoba Berkomunikasi
Aku tidak tinggal diam.
Aku mencoba memberi tanda.
Mengetuk dari dalam cermin.
Menggerakkan bayangan.
Kadang, aku berhasil membuat pantulan terlihat sedikit "aneh".
Sedikit terlambat.
Sedikit berbeda.
Aku berharap…
Ada yang menyadarinya.
Sampai Suatu Hari
Dia berdiri di depan cermin.
Menatapku.
Untuk waktu yang lama.
Lebih lama dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya…
Dia berbicara langsung padaku.
"Kamu Masih Berharap?"
Suaranya terdengar jelas.
Di dalam kepalaku.
Dingin. Tenang.
Seolah dia tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku Tidak Menjawab
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena aku tidak bisa.
Aku hanya bisa melihat.
Dia Tersenyum Lagi
"Tenang saja," katanya.
"Aku akan menjaga hidupmu dengan baik."
Kalimat itu…
Harusnya terdengar menenangkan.
Tapi justru terasa mengerikan.
Aku Mulai Kehilangan Diriku
Semakin lama di sini…
Aku mulai lupa banyak hal.
Suara orang-orang.
Kebiasaan kecil.
Bahkan…
Wajahku sendiri.
Pantulan di sekitarku mulai berubah.
Kadang bukan aku.
Kadang bukan siapa-siapa.
Seolah aku perlahan… menghilang.
Satu Hal yang Masih Aku Ingat
Namaku.
Itu satu-satunya yang masih aku pegang.
Satu-satunya bukti bahwa aku pernah ada.
Dan Lalu… Sesuatu Terjadi
Suatu malam, dia kembali berdiri di depan cermin.
Tapi kali ini…
Dia tidak sendiri.
Ada seseorang di belakangnya.
Teman.
Atau mungkin…
Kamu.
Dia Mendekatkan Wajahnya ke Cermin
Sangat dekat.
Matanya menatap lurus ke dalam.
Ke arahku.
Lalu dia berbisik:
"Lihat baik-baik pantulanmu…"
Aku Mengerti
Saat itu juga, aku sadar.
Dia tidak hanya ingin hidup sebagai aku.
Dia ingin keluar lagi.
Menggantikan yang lain.
Penutup (Ending Final)
Sekarang aku tahu…
Aku mungkin tidak akan pernah keluar dari sini.
Tapi mungkin…
Aku masih bisa memperingatkan.
Jadi kalau suatu hari kamu berdiri di depan cermin…
Dan merasa pantulanmu sedikit terlambat…
Atau tersenyum lebih dulu…
Jangan abaikan.
Jangan terlalu lama menatapnya.
Dan yang paling penting—
Jangan pernah membiarkannya mendekat terlalu dekat.
---
Karena begitu kamu sadar…
mungkin sudah terlambat.
Komentar
Posting Komentar